REFLEKSI KASUS
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD dr. Soebandi Jember
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn Nuret Altis Samsidar
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur :17 tahun
Status menikah :belum menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Tempurejo
II. AUTOANAMNESA
a. Keluhan utama : bercak-bercak putih pada kedua tangan
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengaku bercak-bercak seperti ini sejak 2 bulan yang lalu, pasien tidak mengeluhkan rasa kering atau lembab pada kulit. Gatal-gatal juga tidak dikeluhkan oleh pasien. Sebelumnya bercak berwarna merah kemudian berubah menjadi putih. Dulu bercak muncul pada kedua pergelangan tangan yang kambuh ketika memakai jaket dan berkeringat, setelah mencuci baju, serta musim hujan belakangan ini. Namun gangguan yang menurut pasien bisa sembuh sekarang menjalar spontan pada seluruh bagian tangan pasien.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah pasien menderita penyakit seperti pasien
e. Riwayat Pengobatan
Fungiderm yang diberikan dari ayah pasien
f. Riwayat Alergi
Pasien tidak pernah alergi terhadap makanan maupun obat-obatan
III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status generalis
Kesadaran : Composmentis
Keadaan umum : baik
Kepala/leher : dalam batas normal
Thorak Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
b. Status lokalis
Efloresensi : didapatkan makula hipopigmentasi dengan skuama halus, lentikular, bentuk tidak teratur, regional dengan tepi rata dan batas jelas.
Lokasi : Regio Anthebrachialis anterior et posterior
IV. RESUME
Seorang pasien laki-laki 17 tahun datang dengan keluhan utama bercak-bercak putih pada kedua tangannya. Menurut pasien bercak-bercak tersebut muncul sejak 2 bulan yang lalu, sebelumnya bercak-bercak tersebut berwarna merah kemudian berubah menjadi bercak-bercak keputihan. Dulu bercak-bercak muncul pada kedua pergelangan tangan yang kambuh ketika memakai jaket dan berkeringat, setelah mencuci baju, serta musim hujan belakangan ini. Namun gangguan yang menurut pasien bisa sembuh sekarang menjalar cepat pada seluruh bagian tangan pasien. Pasien tidak mengeluhkan rasa gatal pada tempat-tempat yang mengalami bercak-bercak putih tersebut. Pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya namun bercak-bercak terbatas pada pergelangan tangan. Ayah pasien menderita penyakit yang sama. Pasien pernah diberikan salep fungiderm oleh ayah pasien. Pasien tidak pernah alergi terhadap makanan maupun obat-obatan. Pada regio Anthebrachialis anterior et posterior didapatkan effloresensi makula hipopigmentasi dengan skuama halus, lentikular, bentuk tidak teratur, regional dengan tepi rata dan batas jelas.
V. DIAGNOSIS BANDING
a. Vitiligo
b. Psoriasis
c. Pityriasis alba
VI. DIAGNOSIS KERJA
Pityriasis versicolor
VII. PENATALAKSANAAN
a. Tab Ketokonazole 2x1 100mg
b. Sapoviridis
c. Krim Acidum salisilicum 3%
VIII. PROGNOSIS
Baik
Tinjauan Pustaka
Pityriasis Versikolor
Definisi
Pitiriasis versikolor adalah suatu penyakit jamur kulit yang kronik dan asimtomatik serta ditandai dengan bercak putih sampai coklat yang bersisik. Kelainan ini umumnya menyerang badan dan kadang-kadang terlihat di ketiak, sela paha, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala (Siregar, 2005).
Insiden
Pitiriasis versikolor distibusi seluruh dunia, tetapi pada daerah tropis dan daerah subtropis. Didaerah tropis insiden dilaporkan sebanyak 40%, sedangkan pada daerah yang lebih dingin angka insiden lebih rendah, sekitar 3% pasien mengunjungi dermatologis. Di inggris, insiden dilaporkan sekitar 0,5% sampai 1% diantara penyakit kulit. Berdasarkan rasio seks terdapat perbedaan insiden, studi yang dilakukan di mesir insiden berkisar 1,8:1 pria daripada wanita. Pitiriasis versikolor kebanyakan menyerang orang muda. Grup umur yang terkena 25-30 tahun pada pria dan 20-25 pada wanita. Terdapat beberapa bukti resiko terpapar terhadap pitiriasis versikolor dapat secara genetik diturunkan. Pada studi ditemukan persentase insiden 17% dengan riwayat keluarga (El-gothamy, 2004).
Patofisiologi
Pitiriasis Versikolor disebabkan oleh organisme dimorphic, lipophilic yaitu Malassezia furfur, yang dibiakkan hanya pada media kaya asam lemak rantai C12-C14. Pityrosporon orbiculare, pityrosporon ovale, dan Malassezia furfur merupakan sinonim dari M. Furfur. M. Furfur merupakan flora normal kutaneus manusia., dan ditemukan pada 18% bayi dan 90-100% dewasa (Burkhart et al, 2006).
Pada pasien dengan stadium klinis jamur tersebut dapat ditemukan dalam bentuk spora dan dalam bentuk filamen (hyphe). Faktor-faktor yang menyebabkan berkembang menjadi parasit sebagai berikut (Ervianti, 2005):
Endogen: kulit berminyak, hiperhidrosis, genetika, imunodefisiensi, sindrom Cushing, malnutrisi
Eksogen: kelembaban dan suhu tinggi, higiene, oklusi pakaian, penggunaan emolien yang berminyak
Beberapa faktor menyumbang peranan penting dalam perkembangan dan manifestasi klinik dari Pitiriasis versikolor. Lemak kulit memiliki pengaruh, pityrosporum merupakan jamur yang lipofilik dan bergantung kepada lemak sehingga memiliki kaitan erat dengan dengan trigliserida dan asam lemak yang diproduksi oleh kelenjar sebasea. Ketergantungan terhadap lemak menjelaskan bahwa pitiriasis versikolor memiliki predileksi pada kulit secara fisiologik kaya akan kelenjar sebasea, dan tidak muncul pada tangan dan tapak kaki. Pitiriasis versikolor jarang pada anak-anak dan orang tua karena kulit mereka rendah akan konsentrasi lemak, berbeda dengan orang muda. Sekresi keringat, pada daerah tropikal endemik pitiriasis versikolor, suhu akan mengakibatkan peningkatan sekresi keringat yang mempengaruhi komposis lapisan lemak kulit dan berhubungan dengan inisiasi pitiriasis versikolor. Faktor hormonal, dilaporkan bahwa kasus pitiriasis versikolor meningkat pada iatrogenik Cushing’s syndrome yang diakibatkan perubahan-perubahan stratum kulit, juga pada kehamilan dan akne vulgaris (Grigoriu et al, 1982).
Proses depigmentasi kulit pada pitiriasis versikolor bersifat subyektif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, ras, paparan matahari, inflamasi kulit dan efek langsung Pityrosporum pada melanocytes. Studi histologi, menunjukkan kehadiran sejumlah melanocytes pada daerah noda lesi degeneratif dari pitiriasis versikolor. Hal ini memberikan petunjuk terjadinya penurunan produksi melanin, penghambatan transfer melanin pada keratinocytes, kedua hal tersebut menimbulkan kekurangan melanin pada kulit ( Grigoriu et al, 1982). Pendapat lain bahwa lesi hipopigmentasi terjadi karena mekanisme penyaringan sinar matahari oleh jamur, sehingga lesi kulit menjadi lebih terang dibanding dengan kulit sekitar lesi yang lebih gelap. Namun pendapat ini kurang tepat untuk menjelaskan hipopigmentasi pada pitiriasis versikolor karena beberapa kasus hipopigmentasi pada pitiriasis versikolor tanpa terpapar oleh sinar matahari (El-gothamy, 2004, Grigoriu at al, 1982).
Manifestasi Klinis
Kelainan kulit Pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut berfluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood. Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimtomatik sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut (Budimulja, 2002).
Kadang-kadang penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan alasan berobat. Pseudoakromia, akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh tokis jamur terhadap pembentukan pigmen, sering dikeluhkan penderita. Penyakit ini sering dilihat pada remaja, walaupun anak-anak dan orang dewasa tua tidak luput dari infeksi. Menurut BURKE (1961) ada beberapa faktor yang mempengaruhi infeksi, yaitu faktor herediter, penderita yang sakit kronik atau yang mendapat pengobatan steroid dan nutrisi (Budimulja, 2002).
Pitiriasis versikolor muncul dengan 3 bentuk:
Papulosquamous
Paling sering bermanifestasi dalam gambaran bersisik, batas jelas, banyak, makula bulat sampai oval yang tersebar pada batang tubuh, dada, leher, ekstrimitas dan kadang pada bagian bawah perut.
Makula cenderung untuk menyatu, membentuk area pigmentasi irreguler. Area yang terinfeksi dapat menjadi gelap atau menjadi lebih terang dari kulit sekitar
Kondisi ini akan lebih terlihat pada musim panas dimana perbedaan warna akan lebih menonjol
Inverse Pityriasis versicolor
Bentuk kebalikan dari Pitiriasis versikolor pada keadaan distribusi yang berbeda, kelainan pada regio flexural, wajah atau area tertentu pada ekstrimitas. Bentuk ini lebih sering terlihat pada pasien yang mengalami gangguan imunodefisiensi.
Bentuk ini dapat dibingungkan dengan kandidiasis, dermatitis seborrhoik, psoriasis, erythrasma dan infeksi dermatophyte.
Folliculitis
Bentuk ketiga dari infeksi M. furfur pada kulit melibatkan folikel rambut. Kondisi ini biasanya terjadi pada area punggung, dada dan ekstrimitas
Bentuk ini secara klinik sulit dibedakan dengan folikulitis bakterial. Infeksi akibat Pityrosporum folliculitis berupa papula kemerahan atau pustula.
Faktor predisposis diantaranya diabetes, kelembapan tinggi, terapi steroid atau antibiotika dan terapi immunosupresan. Beberapa laporan menunjukkan bahwa M. furfur memiliki peran dalam dermatitis seborrhoik.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikologis kerokan kulit
Pengambilan bahan dapat dengan kerokan biasa atau dengan menggunakan cellotape yang ditempel pada lesi. Setelah diambil, bahan diletakkan di atas gelas obyek lalu diteteskan larutan KOH 20% atau campuran 9 bagian KOH 20% dengan 1 bagian tinta parker blueback superchrome X akan lebih memperjelas pembacaan karena memberi tampilan warna biru yang serah pada elemen-elemen jamur.
Hasil positif:
Hifa pendek, lurus, bengkok (seperti huruf i, v, j) dan gerombolan spora budding yeast yang berbentuk bulat mirip seperti sphagetti with meatballs.
Hasil negatif:
Bila tidak ada lagi hifa, maka berarti bukan pitiriasis versikolor walaupun ada spora.
Lampu Wood
Untuk membantu menegakkan diagnosis dan untuk menentukan luasnya lesi dapat dilakukan pemeriksaan dengan penyinaran lampu Wood pada seluruh tubuh penderita dalam kamar gelap. Hasilnya positif apabila terlihat fluoresensi berwarna kuning emas pada lesi tersebut (Ervianti, et al).
Diagnosis Banding
Penyakit ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis, achromia parasitik dari Pardo-Castello dan Dominiquez, morbus hansen, pitiriasis alba serta vitiligo.
Diagnosis
Diagnosis penyakit ini ditegakkan atas dasar:
Gambaran klinis yang khas
Pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit dengan KOH 20%
Pemeriksaan fluoresensi lesi kulit dengan lampu Wood (Ervianti, et al)
Penatalaksanaan
Pengobatan topikal
Selenium sulfide (2,5%) losion atau shampo; digunakan pada daerah selama 10 sampai 15 menit, diikuti dengan mandi, dipakai selama 1 minggu.
Propylene glycol 50% solution; dua kali sehari selama 2 minggu.
Shampo ketokonazole dikombinasikan dengan shampo selenium sulfide
Krim azole (ketokonazole, econazole, miconazole, clotrimazole); dipakai 4 kali atau 2 kali sehari selama 2 minggu.
Terapi Sistemik
Ketoconazole: 200 mg perhari selama 7 sampai 14 hari
Ketoconazole (400 mg) atau fluconazole (400 mg dosis sekali), diulang setelah 1 minggu.
Itraconazole: 200 mg dua kali sehari pada satu hari; 200 mg untuk 5 hari
Terapi profilaksis
Shampo ketokonazole sekali atau dua kali seminggu. Lotion atau shampo selenium sulfide (2,5%). Sabun asam salisilat/sulfur. Pyrithion Zinc (sabun atau shampo). Propylene glycol 50% solution sekali sebulan (Fizpatrick et al, 1997).
Penelitian dengan shampo 0,5% coal tar dapat menghambat pertumbuhan jamur, shampo 2,5% selenium sulfide dan 1% dan 2% zinc pyrithione secara signifikan lebih menghambat. (Leyden, et al 1982). Penelitian ketoconazole menunjukkan respon yang baik terhadap pitiriasis versikolor dengan sedikit efek samping. Diantara 90 pasien setelah pengobatan, 84 pasien (93%) sembuh. 6 Pasien pengobatan lanjut 2 minggu ketokonazole dan sembuh. Keluhan gatal berkurang cepat sebanyak 89% pasien dalam waktu 4 minggu. Sisik menghilang lebih lamban dengan 71% pasien sembuh dalam 4 minggu (Giam et al, 1984). Penggunaan sabun sebaiknya dikombinasikan dengan antijamur topikal lainnya atau sebagai terapi perawatan hal ini berdasarkan penilitian (Bari, et al 2008).
Pakaian, kain sprei, handuk, harus dicuci dengan air panas. Kebanyakan pengobatan akan menghilangkan bukti infeksi aktif (skuama) dalam waktu beberapa hari, tetapi untuk menjamin pengobatan yang tuntas pengobatan ketat ini harus dilanjutkan beberapa minggu.
Perubahan pigmen lebih lambat hilangnya. Daerah hipopigmentasi belum akan tampak normal sampai daerah itu menjadi coklat kembali. Hal ini dapat terjadi karena M. furfur dapat menghasilkan suatu zat, yaitu asam azelat yang dapat menghambat pertumbuhan pigmen. Sesudah terkena sinar matahari lebih lama daerah-daerah yang hipopigmentasi akan coklat kembali. Meskipun terapi nampak sudah cukup, kambuh, atau kena infeksi lagi merupakan hal biasa, namun selalu ada respons terhadap pengobatan kembali.
Prognosis
Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif (Budimulja, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Bari, A. U. & Naeem, M. An Open, Controlled Trial of 10% sulphur-3% Salicylic Acid Soap Versus Bland Soap for the Treatment of Pityriasis Versicolor. Journal of Pakistan Association of Dermatologists 2008; 18: 154-158.
Burkhart, C.G., Gottwald, L. & Burkhart, C. N. 2006. Tinea Versicolor. eMedicine. [http: www.emedicine.com/tinea/versicolor/overview.htm].
Djuanda A., Hamzah, M & Aisah S. 2002. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Flitzptrick, T. B., Johnson, R. A., Wolff, K. Polano, M. K., Suurmond, D. 1997. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
Giam Y S. & Rajan V S. Oral Ketoconazole-A New Treatment for Tinea Versicolor. Singapore Medical Journal Volume 25 No. 3 June 1984
Grigoriu D. & Balus L. 1982. Pityriasis versicolor. German: CILAG LTD.
Leyden, J. & McGinley, K. J. Antifungal Activity of Dermatological Shampoos. Arch Dermatol Res (1982) 272:339-342.
Siregar, R.S. 2005. Penyakit Jamur Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Zenab M. G. El-Gothamy. A Review of Pityriasis Versicolor. J. Egypt Wom Dermatol Soc. Vol. 1. No. 2. 2004:36-43.
Kamis, 22 Januari 2009
CASE REPORT - Creeping Eruption
REFLEKSI KASUS
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD dr. Soebandi Jember
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD dr. Soebandi Jember
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tegar Hendi
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur :13 bulan
Status menikah :belum menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Ambulu, jln glori Gg 1
II. AUTOANAMNESA
a. Keluhan utama : gatal-gatal pada punggung kiri bawah
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini
e. Riwayat Pengobatan
Berobat ke bidan diberi salep bivalex dan acyclovir
f. Riwayat Alergi
Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan
g. Lingkungan
Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan khusus.
III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status generalis
Kesadaran : Composmentis
Keadaan umum : baik
Kepala/leher : dalam batas normal
Thorak Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
b. Status lokalis
Efloresensi : didapatkan makula hiperpigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
Lokasi : Regio lumbalis sinistra
Gambar 1. Effloresensi Pasien
IV. RESUME
Seorang pasien laki-laki 13 bulan datang dengan keluhan utama gatal-gatal pada punggung kiri bawah Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang. Ayah pasien membawa berobat ke bidan dan diberi salep bivalex dan acyclovir. Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan. Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya. Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan. Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini. Pada regio lumbalis kiri didapatkan effloresensi makula hipopigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
V. DIAGNOSIS BANDING
a. Scabies
b. Tinea corporis
c. Insect bite
VI. DIAGNOSIS KERJA
Creeping eruption
VII. PENATALAKSANAAN
a. Nonmedikamentosa
Menjaga kebersihan lingkungan terhadap reservoir larva
b. Medikamentosa
a. Semprotan kloretil pada lesi sampai beku
b. Tiobendazol oral 50mg/kgBB/hari selama 2 hari
VIII. PROGNOSIS
Baik
Tinjauan Pustaka
Creeping Eruption
Sinonim
Cutaneus larva migrans, dermatosis linearis migrans, sndworm disease.
Definisi
Creeping eruption adalah suatu erupsi kulit khas, yang disebabkan oleh aneka macam penyebab, dengan gambaran klinis berupa lesi yang menjalar/bermigrasi karena adanya parasit yang bergerak didalam kulit (Harahap, 2002).
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh daerah beriklim panas dan dapat terjadi di Eropa Utara selama musim panas. Biasanya anak-anak atau orang dewasa, lebih sering pada pria (Siregar, 2002; Harahap, 2002).
Etiologi
Penyebab Creeping eruption antara lain:
Ancylostoma braziliense (cacing tambang anjing dan kucing)merupakan penyebab umum.
Ancylostoma caninum (cacing tambang anjing) terdapat di Australia.
Uncinaria stenocephala (cacing tambang anjing) terdapat di Europe.
Bunostomum phlebotomum (cacing tambang kucing)
Patofisiologi
Penularan terjadi karena individu berkontak dengan tanah lembab yang telah terkontaminasi kotoran anjing, kucing atau sapi yang telah mengandung larva cacing tersebut. Larva mengadakan penetrasi kekulit manusia dan memulai migrasinya pada epidermis bagian bawah. Larva ini tidak dapat mengadakan penetrasi ke dermis manusia, maka tidak dapat terjadi siklus hidup yang normal. Manusia merupakan hospes yang tidak tepat bagi larva tersebut, sehingga larva akhirnya akan mati.
Penetrasi cacing tambang tergantung pada sekresi dari zat bioakif seperti enzim proteolitik, hyaluronidase, dan sekresi-sekresi protein litik. Kulit manusia merupakan penghalang yang kuat terhadap patogen invasif, termasuk cacing tambang. Larva cacing tambang mensekresi beberapa protease yang dilepaskan ketika larva aktif, dianggap mencerna molekul-molekul besar dan jaringan kulit. Diantaranya, Ancylostoma caninum astacin-like zinc-metalloprotease (Ac-MTP-1) telah ditemukan sebagai produk sekret dari larva cacing tambang. Selain protease lava cacing tambang juga memproduksi hyaluronidase yang mempunyai kemampuan untuk menghancurkan komponen-komponen dari matriks ekstraseluler. Kombinasi dari dua anzim pencerna ini diduga berperan dalam penetrasi cacing tambang pada kulit manusia. Larva cacing tambang memasuki kulit manusia melewati folikel rambut dan kelenjar sebaseous. Larva tersebut memulai migrasi dalam kulit setelah 4 hari penetrasi dan lebih aktif pada malam hari (Velho, 2003; Capello, 2004).
Biopsi histopatologi menunjukkan dermoepidermitis, baik superfisial dan dalam, dengan jumlah yang banyak dari fokus eosinofilik maupun serbukan limfosit. Investasi biasanya self limited, larva menetap selama 1 sampai 2 minggu, kendati pada kasus yang yang jarang dapat menetap selama beberapa tahun. Infestasi dari A. Caninum menyebar lebih luas, dengan manifestasi sistemik, folikulitis dan migrasi ke otot setempat (Velho, 2003).
Manifestasi Klinik
Larva dapat menimbulkan dermatitis nonspesifik pada tempat penetrasi, yakni tempat kulit berkontak dengan tanah yang terkontaminasi. Penetrasi sering terjadi pada tangan, kaki, dan bokong. Keadaan ini dapat menetap selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, atau langsung menjalar dan menimbulkan garis seperti benang yang berjalan, agak meninggi. Lesi mirip terowongan, berwarna seperti daging atau merah muda dengan lebar sekitar 3 mm. Bentuknya khas dengan pola yang berkelok-kelok, mengandung cairan serosa dan disertai rasa gatal yang hebat. Lesi lama akan mengering dan membentuk krusta. Sejumlah besar larva dapat aktif pada saat yang sama dengan disertai pembentukan serangkaian lesi yang berputar-putar dan berliku-liku (Harahap, 2002).
Larva bergerak sepanjang beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter sehari, dan berada di bagian depan lesi. Perjalanan satu larva umumnya terbatas pada daerah yang relatif kecil, tetapi kadang-kadang dapat bergerak lebih jauh. Sepanjang garis lesi seirng terdapat vesikula dan rasa gatal menimbulkan garukan dan selanjutnya terjadi dermatitis dan infeksi sekunder. Migrasi akan berhenti setelah beberapa minggu sampai beberapa bulan (Harahap, 2002).
Penyakit bersifat self limiting karena manusia merupakan hospes terakhir, sampai larva tersebut akhirnya mati. Perkiraan mengenai lamanya penyakit secara alamiah sangat bervariasi. Variasi ini tegantung spesies larva, tetapi umumnya tidak diketahui. Beberapa lesi menetap selama beberapa bulan. Larva migrans dapat diikuti oleh eosinofilia dan Loeffler’s syndrome, terutama pada infestasi yang berat (Harahap, 2002).
Larva currens merupakan suatu bentuk khusus dari penyakit ini. Penyebab adalah S. Stercoralis. Terdapat erupsi papular yang hebat pada tempat penetrasi dengan diikuti urtikaria dan erupsi papulovesikular, edematous, atau nonspesifik. Paling sering terdapat pada daerah perianal atau bokong. Parasit bermigrasi cepat, dapat sampai 10 cm per jam. Pnyakit yang kronik dan intermiten dapat bertahan sampai bertahun-tahun (Harahap, 2002).
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas gambaran klinis dengan ditemukannya lesi yang khas. Biopsi kurang mempunyai arti karena larva sulit ditemukan. Penyakit ini akan sembuh sendiri (self limited), sekitar 50% larva mati dalam 12 minggu walaupun tanpa terapi (Harahap, 2002).
Penatalaksanaan
Nonmedikamentosa
Dapat dicegah dengan meningkatkan sistem sanitasi yang baik terutama yang terkait dengan feses
Pemakaian sepatu pada area dimana banyak terdapat penyakit cacing tambang
Memperhatikan kebersihan dan menghindari kontak yang terlalu banyak dengan hewan-hewan yang merupakan karier cacing tambang (Pradhan, 2002).
Medikamentosa
Pengobatan topikal
Obat pilihan berupa tiobendazol topikal 10%, diaplikasi 4 kali sehari selama satu minggu. Obat ini perlu diaplikasikan di sepanjang lesi dan pada kulit normal di sekitar lesi. Dapat juga digunakan solutio tiobendazol 2% dalam DMSO (dimetil sulfoksida) atau tiobendazol topikal ditambah kortikosteroid topikal yang digunakan secara oklusi dalam 24-48 jam (Harahap, 2002).
Terapi lama, yaitu pembekuan lesi, menggunkan etil klorida atau dry ice. Terapi ini efektif bila epidermis terkelupas bersama parasit. Seluruh terowongan harus dibekukan karena parasit diperkirakan berada dalam teroongan. Cara ini bersifat traumatik dan hasilnya kurang dapat dipercaya (Harahap, 2002).
Pengobatan Sistemik
Obat oral tiobendazol digunakan dengan dosis 25-50 mg/kgBB dua kali sehari selama 2-4 hari dengan dosis maksimal 2-4 gram sehari. Efek samping berupa pusing, kra, mual dan muntah. Juga dapat digunakan albendazol 400 mg per ora, dosis tunggal selama 2 hari berturut-turut (Harahap, 2002).



DAFTAR PUSTAKA
Capello, M. & Jones, B. F. Hookworm Infection: Moleculer Mechanism of Disease and Targets for Controls. Drug Discovery Today: Disease Mechanism-Infectious Disease. Vol. I, No. 2 2004.
Djuanda A., Hamzah, M & Aisah S. 2002. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Flitzptrick, T. B., Johnson, R. A., Wolff, K. Polano, M. K., Suurmond, D. 1997. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
Harahap, M. 2002. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Juzych, L. A., Douglass, M. C. 2008. Cutaneus Larva Migrans.eMedicine. [http://www. emdicine.com/dermatologies/parasitinfection.html]
Park, J.W., Kwon, S. J., Ryu, J. S. & Hong, E. K. Two Imported Cases of Cutaneous Larva Migrans. The Korean Journal of Parasitology. Vol. 39, No. 1, 77-81, March 2001.
Siregar, R. S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Thomas, E. Stocks, R. & Shinkar, R. M. Cutaneus Larva Migrans, Creeping Eruption, Sand Worm. Doi: 10.1136/adc. 2005.073197.
Velho, P. E. N. F., Faria, A. V., Cintra, M. L., Souza, E. M. & Morase, A. M. Larva Migrans: A Case Report and Review. Rev. Inst. Med. Trop. S. Paulo. 45(3):167-171, May-June, 2003.
Nama : Tegar Hendi
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur :13 bulan
Status menikah :belum menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Ambulu, jln glori Gg 1
II. AUTOANAMNESA
a. Keluhan utama : gatal-gatal pada punggung kiri bawah
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini
e. Riwayat Pengobatan
Berobat ke bidan diberi salep bivalex dan acyclovir
f. Riwayat Alergi
Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan
g. Lingkungan
Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan khusus.
III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status generalis
Kesadaran : Composmentis
Keadaan umum : baik
Kepala/leher : dalam batas normal
Thorak Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
b. Status lokalis
Efloresensi : didapatkan makula hiperpigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
Lokasi : Regio lumbalis sinistra
Gambar 1. Effloresensi Pasien
IV. RESUME
Seorang pasien laki-laki 13 bulan datang dengan keluhan utama gatal-gatal pada punggung kiri bawah Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang. Ayah pasien membawa berobat ke bidan dan diberi salep bivalex dan acyclovir. Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan. Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya. Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan. Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini. Pada regio lumbalis kiri didapatkan effloresensi makula hipopigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
V. DIAGNOSIS BANDING
a. Scabies
b. Tinea corporis
c. Insect bite
VI. DIAGNOSIS KERJA
Creeping eruption
VII. PENATALAKSANAAN
a. Nonmedikamentosa
Menjaga kebersihan lingkungan terhadap reservoir larva
b. Medikamentosa
a. Semprotan kloretil pada lesi sampai beku
b. Tiobendazol oral 50mg/kgBB/hari selama 2 hari
VIII. PROGNOSIS
Baik
Tinjauan Pustaka
Creeping Eruption
Sinonim
Cutaneus larva migrans, dermatosis linearis migrans, sndworm disease.
Definisi
Creeping eruption adalah suatu erupsi kulit khas, yang disebabkan oleh aneka macam penyebab, dengan gambaran klinis berupa lesi yang menjalar/bermigrasi karena adanya parasit yang bergerak didalam kulit (Harahap, 2002).
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh daerah beriklim panas dan dapat terjadi di Eropa Utara selama musim panas. Biasanya anak-anak atau orang dewasa, lebih sering pada pria (Siregar, 2002; Harahap, 2002).
Etiologi
Penyebab Creeping eruption antara lain:
Ancylostoma braziliense (cacing tambang anjing dan kucing)merupakan penyebab umum.
Ancylostoma caninum (cacing tambang anjing) terdapat di Australia.
Uncinaria stenocephala (cacing tambang anjing) terdapat di Europe.
Bunostomum phlebotomum (cacing tambang kucing)
Patofisiologi
Penularan terjadi karena individu berkontak dengan tanah lembab yang telah terkontaminasi kotoran anjing, kucing atau sapi yang telah mengandung larva cacing tersebut. Larva mengadakan penetrasi kekulit manusia dan memulai migrasinya pada epidermis bagian bawah. Larva ini tidak dapat mengadakan penetrasi ke dermis manusia, maka tidak dapat terjadi siklus hidup yang normal. Manusia merupakan hospes yang tidak tepat bagi larva tersebut, sehingga larva akhirnya akan mati.
Penetrasi cacing tambang tergantung pada sekresi dari zat bioakif seperti enzim proteolitik, hyaluronidase, dan sekresi-sekresi protein litik. Kulit manusia merupakan penghalang yang kuat terhadap patogen invasif, termasuk cacing tambang. Larva cacing tambang mensekresi beberapa protease yang dilepaskan ketika larva aktif, dianggap mencerna molekul-molekul besar dan jaringan kulit. Diantaranya, Ancylostoma caninum astacin-like zinc-metalloprotease (Ac-MTP-1) telah ditemukan sebagai produk sekret dari larva cacing tambang. Selain protease lava cacing tambang juga memproduksi hyaluronidase yang mempunyai kemampuan untuk menghancurkan komponen-komponen dari matriks ekstraseluler. Kombinasi dari dua anzim pencerna ini diduga berperan dalam penetrasi cacing tambang pada kulit manusia. Larva cacing tambang memasuki kulit manusia melewati folikel rambut dan kelenjar sebaseous. Larva tersebut memulai migrasi dalam kulit setelah 4 hari penetrasi dan lebih aktif pada malam hari (Velho, 2003; Capello, 2004).
Biopsi histopatologi menunjukkan dermoepidermitis, baik superfisial dan dalam, dengan jumlah yang banyak dari fokus eosinofilik maupun serbukan limfosit. Investasi biasanya self limited, larva menetap selama 1 sampai 2 minggu, kendati pada kasus yang yang jarang dapat menetap selama beberapa tahun. Infestasi dari A. Caninum menyebar lebih luas, dengan manifestasi sistemik, folikulitis dan migrasi ke otot setempat (Velho, 2003).
Manifestasi Klinik
Larva dapat menimbulkan dermatitis nonspesifik pada tempat penetrasi, yakni tempat kulit berkontak dengan tanah yang terkontaminasi. Penetrasi sering terjadi pada tangan, kaki, dan bokong. Keadaan ini dapat menetap selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, atau langsung menjalar dan menimbulkan garis seperti benang yang berjalan, agak meninggi. Lesi mirip terowongan, berwarna seperti daging atau merah muda dengan lebar sekitar 3 mm. Bentuknya khas dengan pola yang berkelok-kelok, mengandung cairan serosa dan disertai rasa gatal yang hebat. Lesi lama akan mengering dan membentuk krusta. Sejumlah besar larva dapat aktif pada saat yang sama dengan disertai pembentukan serangkaian lesi yang berputar-putar dan berliku-liku (Harahap, 2002).
Larva bergerak sepanjang beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter sehari, dan berada di bagian depan lesi. Perjalanan satu larva umumnya terbatas pada daerah yang relatif kecil, tetapi kadang-kadang dapat bergerak lebih jauh. Sepanjang garis lesi seirng terdapat vesikula dan rasa gatal menimbulkan garukan dan selanjutnya terjadi dermatitis dan infeksi sekunder. Migrasi akan berhenti setelah beberapa minggu sampai beberapa bulan (Harahap, 2002).
Penyakit bersifat self limiting karena manusia merupakan hospes terakhir, sampai larva tersebut akhirnya mati. Perkiraan mengenai lamanya penyakit secara alamiah sangat bervariasi. Variasi ini tegantung spesies larva, tetapi umumnya tidak diketahui. Beberapa lesi menetap selama beberapa bulan. Larva migrans dapat diikuti oleh eosinofilia dan Loeffler’s syndrome, terutama pada infestasi yang berat (Harahap, 2002).
Larva currens merupakan suatu bentuk khusus dari penyakit ini. Penyebab adalah S. Stercoralis. Terdapat erupsi papular yang hebat pada tempat penetrasi dengan diikuti urtikaria dan erupsi papulovesikular, edematous, atau nonspesifik. Paling sering terdapat pada daerah perianal atau bokong. Parasit bermigrasi cepat, dapat sampai 10 cm per jam. Pnyakit yang kronik dan intermiten dapat bertahan sampai bertahun-tahun (Harahap, 2002).
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas gambaran klinis dengan ditemukannya lesi yang khas. Biopsi kurang mempunyai arti karena larva sulit ditemukan. Penyakit ini akan sembuh sendiri (self limited), sekitar 50% larva mati dalam 12 minggu walaupun tanpa terapi (Harahap, 2002).
Penatalaksanaan
Nonmedikamentosa
Dapat dicegah dengan meningkatkan sistem sanitasi yang baik terutama yang terkait dengan feses
Pemakaian sepatu pada area dimana banyak terdapat penyakit cacing tambang
Memperhatikan kebersihan dan menghindari kontak yang terlalu banyak dengan hewan-hewan yang merupakan karier cacing tambang (Pradhan, 2002).
Medikamentosa
Pengobatan topikal
Obat pilihan berupa tiobendazol topikal 10%, diaplikasi 4 kali sehari selama satu minggu. Obat ini perlu diaplikasikan di sepanjang lesi dan pada kulit normal di sekitar lesi. Dapat juga digunakan solutio tiobendazol 2% dalam DMSO (dimetil sulfoksida) atau tiobendazol topikal ditambah kortikosteroid topikal yang digunakan secara oklusi dalam 24-48 jam (Harahap, 2002).
Terapi lama, yaitu pembekuan lesi, menggunkan etil klorida atau dry ice. Terapi ini efektif bila epidermis terkelupas bersama parasit. Seluruh terowongan harus dibekukan karena parasit diperkirakan berada dalam teroongan. Cara ini bersifat traumatik dan hasilnya kurang dapat dipercaya (Harahap, 2002).
Pengobatan Sistemik
Obat oral tiobendazol digunakan dengan dosis 25-50 mg/kgBB dua kali sehari selama 2-4 hari dengan dosis maksimal 2-4 gram sehari. Efek samping berupa pusing, kra, mual dan muntah. Juga dapat digunakan albendazol 400 mg per ora, dosis tunggal selama 2 hari berturut-turut (Harahap, 2002).



DAFTAR PUSTAKA
Capello, M. & Jones, B. F. Hookworm Infection: Moleculer Mechanism of Disease and Targets for Controls. Drug Discovery Today: Disease Mechanism-Infectious Disease. Vol. I, No. 2 2004.
Djuanda A., Hamzah, M & Aisah S. 2002. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Flitzptrick, T. B., Johnson, R. A., Wolff, K. Polano, M. K., Suurmond, D. 1997. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
Harahap, M. 2002. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Juzych, L. A., Douglass, M. C. 2008. Cutaneus Larva Migrans.eMedicine. [http://www. emdicine.com/dermatologies/parasitinfection.html]
Park, J.W., Kwon, S. J., Ryu, J. S. & Hong, E. K. Two Imported Cases of Cutaneous Larva Migrans. The Korean Journal of Parasitology. Vol. 39, No. 1, 77-81, March 2001.
Siregar, R. S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Thomas, E. Stocks, R. & Shinkar, R. M. Cutaneus Larva Migrans, Creeping Eruption, Sand Worm. Doi: 10.1136/adc. 2005.073197.
Velho, P. E. N. F., Faria, A. V., Cintra, M. L., Souza, E. M. & Morase, A. M. Larva Migrans: A Case Report and Review. Rev. Inst. Med. Trop. S. Paulo. 45(3):167-171, May-June, 2003.
Langganan:
Postingan (Atom)