REFLEKSI KASUS
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD dr. Soebandi Jember
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD dr. Soebandi Jember
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tegar Hendi
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur :13 bulan
Status menikah :belum menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Ambulu, jln glori Gg 1
II. AUTOANAMNESA
a. Keluhan utama : gatal-gatal pada punggung kiri bawah
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini
e. Riwayat Pengobatan
Berobat ke bidan diberi salep bivalex dan acyclovir
f. Riwayat Alergi
Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan
g. Lingkungan
Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan khusus.
III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status generalis
Kesadaran : Composmentis
Keadaan umum : baik
Kepala/leher : dalam batas normal
Thorak Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
b. Status lokalis
Efloresensi : didapatkan makula hiperpigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
Lokasi : Regio lumbalis sinistra
Gambar 1. Effloresensi Pasien
IV. RESUME
Seorang pasien laki-laki 13 bulan datang dengan keluhan utama gatal-gatal pada punggung kiri bawah Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang. Ayah pasien membawa berobat ke bidan dan diberi salep bivalex dan acyclovir. Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan. Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya. Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan. Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini. Pada regio lumbalis kiri didapatkan effloresensi makula hipopigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
V. DIAGNOSIS BANDING
a. Scabies
b. Tinea corporis
c. Insect bite
VI. DIAGNOSIS KERJA
Creeping eruption
VII. PENATALAKSANAAN
a. Nonmedikamentosa
Menjaga kebersihan lingkungan terhadap reservoir larva
b. Medikamentosa
a. Semprotan kloretil pada lesi sampai beku
b. Tiobendazol oral 50mg/kgBB/hari selama 2 hari
VIII. PROGNOSIS
Baik
Tinjauan Pustaka
Creeping Eruption
Sinonim
Cutaneus larva migrans, dermatosis linearis migrans, sndworm disease.
Definisi
Creeping eruption adalah suatu erupsi kulit khas, yang disebabkan oleh aneka macam penyebab, dengan gambaran klinis berupa lesi yang menjalar/bermigrasi karena adanya parasit yang bergerak didalam kulit (Harahap, 2002).
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh daerah beriklim panas dan dapat terjadi di Eropa Utara selama musim panas. Biasanya anak-anak atau orang dewasa, lebih sering pada pria (Siregar, 2002; Harahap, 2002).
Etiologi
Penyebab Creeping eruption antara lain:
Ancylostoma braziliense (cacing tambang anjing dan kucing)merupakan penyebab umum.
Ancylostoma caninum (cacing tambang anjing) terdapat di Australia.
Uncinaria stenocephala (cacing tambang anjing) terdapat di Europe.
Bunostomum phlebotomum (cacing tambang kucing)
Patofisiologi
Penularan terjadi karena individu berkontak dengan tanah lembab yang telah terkontaminasi kotoran anjing, kucing atau sapi yang telah mengandung larva cacing tersebut. Larva mengadakan penetrasi kekulit manusia dan memulai migrasinya pada epidermis bagian bawah. Larva ini tidak dapat mengadakan penetrasi ke dermis manusia, maka tidak dapat terjadi siklus hidup yang normal. Manusia merupakan hospes yang tidak tepat bagi larva tersebut, sehingga larva akhirnya akan mati.
Penetrasi cacing tambang tergantung pada sekresi dari zat bioakif seperti enzim proteolitik, hyaluronidase, dan sekresi-sekresi protein litik. Kulit manusia merupakan penghalang yang kuat terhadap patogen invasif, termasuk cacing tambang. Larva cacing tambang mensekresi beberapa protease yang dilepaskan ketika larva aktif, dianggap mencerna molekul-molekul besar dan jaringan kulit. Diantaranya, Ancylostoma caninum astacin-like zinc-metalloprotease (Ac-MTP-1) telah ditemukan sebagai produk sekret dari larva cacing tambang. Selain protease lava cacing tambang juga memproduksi hyaluronidase yang mempunyai kemampuan untuk menghancurkan komponen-komponen dari matriks ekstraseluler. Kombinasi dari dua anzim pencerna ini diduga berperan dalam penetrasi cacing tambang pada kulit manusia. Larva cacing tambang memasuki kulit manusia melewati folikel rambut dan kelenjar sebaseous. Larva tersebut memulai migrasi dalam kulit setelah 4 hari penetrasi dan lebih aktif pada malam hari (Velho, 2003; Capello, 2004).
Biopsi histopatologi menunjukkan dermoepidermitis, baik superfisial dan dalam, dengan jumlah yang banyak dari fokus eosinofilik maupun serbukan limfosit. Investasi biasanya self limited, larva menetap selama 1 sampai 2 minggu, kendati pada kasus yang yang jarang dapat menetap selama beberapa tahun. Infestasi dari A. Caninum menyebar lebih luas, dengan manifestasi sistemik, folikulitis dan migrasi ke otot setempat (Velho, 2003).
Manifestasi Klinik
Larva dapat menimbulkan dermatitis nonspesifik pada tempat penetrasi, yakni tempat kulit berkontak dengan tanah yang terkontaminasi. Penetrasi sering terjadi pada tangan, kaki, dan bokong. Keadaan ini dapat menetap selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, atau langsung menjalar dan menimbulkan garis seperti benang yang berjalan, agak meninggi. Lesi mirip terowongan, berwarna seperti daging atau merah muda dengan lebar sekitar 3 mm. Bentuknya khas dengan pola yang berkelok-kelok, mengandung cairan serosa dan disertai rasa gatal yang hebat. Lesi lama akan mengering dan membentuk krusta. Sejumlah besar larva dapat aktif pada saat yang sama dengan disertai pembentukan serangkaian lesi yang berputar-putar dan berliku-liku (Harahap, 2002).
Larva bergerak sepanjang beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter sehari, dan berada di bagian depan lesi. Perjalanan satu larva umumnya terbatas pada daerah yang relatif kecil, tetapi kadang-kadang dapat bergerak lebih jauh. Sepanjang garis lesi seirng terdapat vesikula dan rasa gatal menimbulkan garukan dan selanjutnya terjadi dermatitis dan infeksi sekunder. Migrasi akan berhenti setelah beberapa minggu sampai beberapa bulan (Harahap, 2002).
Penyakit bersifat self limiting karena manusia merupakan hospes terakhir, sampai larva tersebut akhirnya mati. Perkiraan mengenai lamanya penyakit secara alamiah sangat bervariasi. Variasi ini tegantung spesies larva, tetapi umumnya tidak diketahui. Beberapa lesi menetap selama beberapa bulan. Larva migrans dapat diikuti oleh eosinofilia dan Loeffler’s syndrome, terutama pada infestasi yang berat (Harahap, 2002).
Larva currens merupakan suatu bentuk khusus dari penyakit ini. Penyebab adalah S. Stercoralis. Terdapat erupsi papular yang hebat pada tempat penetrasi dengan diikuti urtikaria dan erupsi papulovesikular, edematous, atau nonspesifik. Paling sering terdapat pada daerah perianal atau bokong. Parasit bermigrasi cepat, dapat sampai 10 cm per jam. Pnyakit yang kronik dan intermiten dapat bertahan sampai bertahun-tahun (Harahap, 2002).
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas gambaran klinis dengan ditemukannya lesi yang khas. Biopsi kurang mempunyai arti karena larva sulit ditemukan. Penyakit ini akan sembuh sendiri (self limited), sekitar 50% larva mati dalam 12 minggu walaupun tanpa terapi (Harahap, 2002).
Penatalaksanaan
Nonmedikamentosa
Dapat dicegah dengan meningkatkan sistem sanitasi yang baik terutama yang terkait dengan feses
Pemakaian sepatu pada area dimana banyak terdapat penyakit cacing tambang
Memperhatikan kebersihan dan menghindari kontak yang terlalu banyak dengan hewan-hewan yang merupakan karier cacing tambang (Pradhan, 2002).
Medikamentosa
Pengobatan topikal
Obat pilihan berupa tiobendazol topikal 10%, diaplikasi 4 kali sehari selama satu minggu. Obat ini perlu diaplikasikan di sepanjang lesi dan pada kulit normal di sekitar lesi. Dapat juga digunakan solutio tiobendazol 2% dalam DMSO (dimetil sulfoksida) atau tiobendazol topikal ditambah kortikosteroid topikal yang digunakan secara oklusi dalam 24-48 jam (Harahap, 2002).
Terapi lama, yaitu pembekuan lesi, menggunkan etil klorida atau dry ice. Terapi ini efektif bila epidermis terkelupas bersama parasit. Seluruh terowongan harus dibekukan karena parasit diperkirakan berada dalam teroongan. Cara ini bersifat traumatik dan hasilnya kurang dapat dipercaya (Harahap, 2002).
Pengobatan Sistemik
Obat oral tiobendazol digunakan dengan dosis 25-50 mg/kgBB dua kali sehari selama 2-4 hari dengan dosis maksimal 2-4 gram sehari. Efek samping berupa pusing, kra, mual dan muntah. Juga dapat digunakan albendazol 400 mg per ora, dosis tunggal selama 2 hari berturut-turut (Harahap, 2002).



DAFTAR PUSTAKA
Capello, M. & Jones, B. F. Hookworm Infection: Moleculer Mechanism of Disease and Targets for Controls. Drug Discovery Today: Disease Mechanism-Infectious Disease. Vol. I, No. 2 2004.
Djuanda A., Hamzah, M & Aisah S. 2002. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Flitzptrick, T. B., Johnson, R. A., Wolff, K. Polano, M. K., Suurmond, D. 1997. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
Harahap, M. 2002. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Juzych, L. A., Douglass, M. C. 2008. Cutaneus Larva Migrans.eMedicine. [http://www. emdicine.com/dermatologies/parasitinfection.html]
Park, J.W., Kwon, S. J., Ryu, J. S. & Hong, E. K. Two Imported Cases of Cutaneous Larva Migrans. The Korean Journal of Parasitology. Vol. 39, No. 1, 77-81, March 2001.
Siregar, R. S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Thomas, E. Stocks, R. & Shinkar, R. M. Cutaneus Larva Migrans, Creeping Eruption, Sand Worm. Doi: 10.1136/adc. 2005.073197.
Velho, P. E. N. F., Faria, A. V., Cintra, M. L., Souza, E. M. & Morase, A. M. Larva Migrans: A Case Report and Review. Rev. Inst. Med. Trop. S. Paulo. 45(3):167-171, May-June, 2003.
Nama : Tegar Hendi
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur :13 bulan
Status menikah :belum menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Ambulu, jln glori Gg 1
II. AUTOANAMNESA
a. Keluhan utama : gatal-gatal pada punggung kiri bawah
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini
e. Riwayat Pengobatan
Berobat ke bidan diberi salep bivalex dan acyclovir
f. Riwayat Alergi
Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan
g. Lingkungan
Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan khusus.
III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status generalis
Kesadaran : Composmentis
Keadaan umum : baik
Kepala/leher : dalam batas normal
Thorak Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
b. Status lokalis
Efloresensi : didapatkan makula hiperpigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
Lokasi : Regio lumbalis sinistra
Gambar 1. Effloresensi Pasien
IV. RESUME
Seorang pasien laki-laki 13 bulan datang dengan keluhan utama gatal-gatal pada punggung kiri bawah Ayah pasien mengatakan gata-gatal sejak setengah bulan yang lalu, gatal lebih hebat apabila berkeringat, pasien juga tampak gelisah. Dulu bentol kecil, diberi salep kemudian menjalar memanjang. Ayah pasien membawa berobat ke bidan dan diberi salep bivalex dan acyclovir. Rumah keluarga pasien adalah rumah dengan lantai semen, kamar mandi luar sedangkan jarak sumur sekitar 3 m dari kamar mandi. Ayah pasien memelihara kucing sejak 2 tahun lalu tanpa pengawasan. Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya. Pasien tidak alergi terhadap makanan atau obat-obatan. Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini. Pada regio lumbalis kiri didapatkan effloresensi makula hipopigmentasi dengan papula eritema berbetuk garis meliuk-liuk, dengan ukuran makula ± 10 cm.
V. DIAGNOSIS BANDING
a. Scabies
b. Tinea corporis
c. Insect bite
VI. DIAGNOSIS KERJA
Creeping eruption
VII. PENATALAKSANAAN
a. Nonmedikamentosa
Menjaga kebersihan lingkungan terhadap reservoir larva
b. Medikamentosa
a. Semprotan kloretil pada lesi sampai beku
b. Tiobendazol oral 50mg/kgBB/hari selama 2 hari
VIII. PROGNOSIS
Baik
Tinjauan Pustaka
Creeping Eruption
Sinonim
Cutaneus larva migrans, dermatosis linearis migrans, sndworm disease.
Definisi
Creeping eruption adalah suatu erupsi kulit khas, yang disebabkan oleh aneka macam penyebab, dengan gambaran klinis berupa lesi yang menjalar/bermigrasi karena adanya parasit yang bergerak didalam kulit (Harahap, 2002).
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh daerah beriklim panas dan dapat terjadi di Eropa Utara selama musim panas. Biasanya anak-anak atau orang dewasa, lebih sering pada pria (Siregar, 2002; Harahap, 2002).
Etiologi
Penyebab Creeping eruption antara lain:
Ancylostoma braziliense (cacing tambang anjing dan kucing)merupakan penyebab umum.
Ancylostoma caninum (cacing tambang anjing) terdapat di Australia.
Uncinaria stenocephala (cacing tambang anjing) terdapat di Europe.
Bunostomum phlebotomum (cacing tambang kucing)
Patofisiologi
Penularan terjadi karena individu berkontak dengan tanah lembab yang telah terkontaminasi kotoran anjing, kucing atau sapi yang telah mengandung larva cacing tersebut. Larva mengadakan penetrasi kekulit manusia dan memulai migrasinya pada epidermis bagian bawah. Larva ini tidak dapat mengadakan penetrasi ke dermis manusia, maka tidak dapat terjadi siklus hidup yang normal. Manusia merupakan hospes yang tidak tepat bagi larva tersebut, sehingga larva akhirnya akan mati.
Penetrasi cacing tambang tergantung pada sekresi dari zat bioakif seperti enzim proteolitik, hyaluronidase, dan sekresi-sekresi protein litik. Kulit manusia merupakan penghalang yang kuat terhadap patogen invasif, termasuk cacing tambang. Larva cacing tambang mensekresi beberapa protease yang dilepaskan ketika larva aktif, dianggap mencerna molekul-molekul besar dan jaringan kulit. Diantaranya, Ancylostoma caninum astacin-like zinc-metalloprotease (Ac-MTP-1) telah ditemukan sebagai produk sekret dari larva cacing tambang. Selain protease lava cacing tambang juga memproduksi hyaluronidase yang mempunyai kemampuan untuk menghancurkan komponen-komponen dari matriks ekstraseluler. Kombinasi dari dua anzim pencerna ini diduga berperan dalam penetrasi cacing tambang pada kulit manusia. Larva cacing tambang memasuki kulit manusia melewati folikel rambut dan kelenjar sebaseous. Larva tersebut memulai migrasi dalam kulit setelah 4 hari penetrasi dan lebih aktif pada malam hari (Velho, 2003; Capello, 2004).
Biopsi histopatologi menunjukkan dermoepidermitis, baik superfisial dan dalam, dengan jumlah yang banyak dari fokus eosinofilik maupun serbukan limfosit. Investasi biasanya self limited, larva menetap selama 1 sampai 2 minggu, kendati pada kasus yang yang jarang dapat menetap selama beberapa tahun. Infestasi dari A. Caninum menyebar lebih luas, dengan manifestasi sistemik, folikulitis dan migrasi ke otot setempat (Velho, 2003).
Manifestasi Klinik
Larva dapat menimbulkan dermatitis nonspesifik pada tempat penetrasi, yakni tempat kulit berkontak dengan tanah yang terkontaminasi. Penetrasi sering terjadi pada tangan, kaki, dan bokong. Keadaan ini dapat menetap selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, atau langsung menjalar dan menimbulkan garis seperti benang yang berjalan, agak meninggi. Lesi mirip terowongan, berwarna seperti daging atau merah muda dengan lebar sekitar 3 mm. Bentuknya khas dengan pola yang berkelok-kelok, mengandung cairan serosa dan disertai rasa gatal yang hebat. Lesi lama akan mengering dan membentuk krusta. Sejumlah besar larva dapat aktif pada saat yang sama dengan disertai pembentukan serangkaian lesi yang berputar-putar dan berliku-liku (Harahap, 2002).
Larva bergerak sepanjang beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter sehari, dan berada di bagian depan lesi. Perjalanan satu larva umumnya terbatas pada daerah yang relatif kecil, tetapi kadang-kadang dapat bergerak lebih jauh. Sepanjang garis lesi seirng terdapat vesikula dan rasa gatal menimbulkan garukan dan selanjutnya terjadi dermatitis dan infeksi sekunder. Migrasi akan berhenti setelah beberapa minggu sampai beberapa bulan (Harahap, 2002).
Penyakit bersifat self limiting karena manusia merupakan hospes terakhir, sampai larva tersebut akhirnya mati. Perkiraan mengenai lamanya penyakit secara alamiah sangat bervariasi. Variasi ini tegantung spesies larva, tetapi umumnya tidak diketahui. Beberapa lesi menetap selama beberapa bulan. Larva migrans dapat diikuti oleh eosinofilia dan Loeffler’s syndrome, terutama pada infestasi yang berat (Harahap, 2002).
Larva currens merupakan suatu bentuk khusus dari penyakit ini. Penyebab adalah S. Stercoralis. Terdapat erupsi papular yang hebat pada tempat penetrasi dengan diikuti urtikaria dan erupsi papulovesikular, edematous, atau nonspesifik. Paling sering terdapat pada daerah perianal atau bokong. Parasit bermigrasi cepat, dapat sampai 10 cm per jam. Pnyakit yang kronik dan intermiten dapat bertahan sampai bertahun-tahun (Harahap, 2002).
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas gambaran klinis dengan ditemukannya lesi yang khas. Biopsi kurang mempunyai arti karena larva sulit ditemukan. Penyakit ini akan sembuh sendiri (self limited), sekitar 50% larva mati dalam 12 minggu walaupun tanpa terapi (Harahap, 2002).
Penatalaksanaan
Nonmedikamentosa
Dapat dicegah dengan meningkatkan sistem sanitasi yang baik terutama yang terkait dengan feses
Pemakaian sepatu pada area dimana banyak terdapat penyakit cacing tambang
Memperhatikan kebersihan dan menghindari kontak yang terlalu banyak dengan hewan-hewan yang merupakan karier cacing tambang (Pradhan, 2002).
Medikamentosa
Pengobatan topikal
Obat pilihan berupa tiobendazol topikal 10%, diaplikasi 4 kali sehari selama satu minggu. Obat ini perlu diaplikasikan di sepanjang lesi dan pada kulit normal di sekitar lesi. Dapat juga digunakan solutio tiobendazol 2% dalam DMSO (dimetil sulfoksida) atau tiobendazol topikal ditambah kortikosteroid topikal yang digunakan secara oklusi dalam 24-48 jam (Harahap, 2002).
Terapi lama, yaitu pembekuan lesi, menggunkan etil klorida atau dry ice. Terapi ini efektif bila epidermis terkelupas bersama parasit. Seluruh terowongan harus dibekukan karena parasit diperkirakan berada dalam teroongan. Cara ini bersifat traumatik dan hasilnya kurang dapat dipercaya (Harahap, 2002).
Pengobatan Sistemik
Obat oral tiobendazol digunakan dengan dosis 25-50 mg/kgBB dua kali sehari selama 2-4 hari dengan dosis maksimal 2-4 gram sehari. Efek samping berupa pusing, kra, mual dan muntah. Juga dapat digunakan albendazol 400 mg per ora, dosis tunggal selama 2 hari berturut-turut (Harahap, 2002).



DAFTAR PUSTAKA
Capello, M. & Jones, B. F. Hookworm Infection: Moleculer Mechanism of Disease and Targets for Controls. Drug Discovery Today: Disease Mechanism-Infectious Disease. Vol. I, No. 2 2004.
Djuanda A., Hamzah, M & Aisah S. 2002. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Flitzptrick, T. B., Johnson, R. A., Wolff, K. Polano, M. K., Suurmond, D. 1997. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
Harahap, M. 2002. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Juzych, L. A., Douglass, M. C. 2008. Cutaneus Larva Migrans.eMedicine. [http://www. emdicine.com/dermatologies/parasitinfection.html]
Park, J.W., Kwon, S. J., Ryu, J. S. & Hong, E. K. Two Imported Cases of Cutaneous Larva Migrans. The Korean Journal of Parasitology. Vol. 39, No. 1, 77-81, March 2001.
Siregar, R. S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Thomas, E. Stocks, R. & Shinkar, R. M. Cutaneus Larva Migrans, Creeping Eruption, Sand Worm. Doi: 10.1136/adc. 2005.073197.
Velho, P. E. N. F., Faria, A. V., Cintra, M. L., Souza, E. M. & Morase, A. M. Larva Migrans: A Case Report and Review. Rev. Inst. Med. Trop. S. Paulo. 45(3):167-171, May-June, 2003.
sangat membantu informasinya
BalasHapusthanks